PUBLIKASI JURNAL PSSN “The Existence of Palang Pintu Culture in the Opening Procession of Betawi Traditional Weddings (Case Study: George Herbert Mead’s Symbolic Interactionism)”

Pusat Studi Sosiobudaya Nusantara melakukan riset kedua di Setu Babakan. Kali ini, riset yang dilakukan mengenai kebudayaan adat Betawi.

Riset ini menganalisis bagaimana eksistensi kebudayaan palang pintu Betawidan pemahaman makna penggunaan palang pintu dalam acara pernikahan adat Betawi.Tujuandari penelitian ini adalah untuk mencari strategi pemulihan budaya palang pintuadat Betawi.Teori yang digunakan adalah teori interaksi simbolik George Herbert Mead. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahmetode penelitian kualitatif Cresswell, J.W. Sifatpenelitian ini adalah deskriptif.Dengan menggunakan metode kuisionersebagai pengumpulan data.Hasil yang diperoleh adalah penjelasanbagaimana eksistensi kebudayaan palang pintu sebagai pembuka dalam acara adat Betawi.Serta bagaimanastrategi yang dapat dilakukan untuk pemulihan budaya Betawi yang hampir punah.

 
Kelompoketnis Betawi memiliki keragaman bahasa, budaya, dan kulturyang luas. Keberagaman budaya ini menimbulkan perspektif, interpretasi, danpemahamanyang berbeda tentang penduduk asli Betawi. Salah satu budaya dan siklus kehidupan yang sangat penting dalam masyarakat Betawi adalah upacara perkawinan. Upacarasendirididefinisikan sebagai perilaku resmi yang dilakukan untuk menandai peristiwayang tidak diarahkan pada aktivitas kegiatan sehari-hari, melainkan terkait dengan kepercayaan di luar kendali manusia. Oleh karena itu, padasetiap pernikahankeduamempelai tampil dengan cara yang istimewa, lengkap dengan rias wajah, sanggul, dan gaun sesuai dengan keutuhan adat pranikah dan pascanikah(Purbasari, 2010). Karena seseorang sudah memulai ritual selama masa transisi, sejak saat ituia mengambil hak dan kewajiban penuh terhadap masyarakat dan budayanya. Ia mulai diikutsertakan dalam acara-acara masyarakat, khususnya dalam upacara-upacara adat, sebagai suami atau istri. Adat istiadat merupakan suatu hal yang lazim dalam suatu negeridan berfluktuasi dengan keadaan masyarakat (Yaniek Ichtiar Ma’rifa, 2019).
 
Dari 50 responden data yang diambil dinyatakan terdapat 30 orang yang menggunakan palang pintu dalam acara pernikahannya. Diantara 30 orang tersebut ada2 orang yang bukan masyarakat asli. Hal ini berarti budaya palang pintu Betawi tidak hanya digunakan oleh masyarakat Betawi asli saja. Tetapi, bisa juga oleh masyarakat pendatang atau suku lainnya. Tentunya hal ini memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai makna penggunaan palang pintu dalam pembuka acara pernikahan. Bedasarkan penjelasansebelumnya diketahui bahwa ada satu tradisi yang mirip dengan Palang Pintu, yaituberebutDandang. Perbedaannya ada penambahan skenario perebutan dandang dari tembaga untuk menentukan siapa yang menang. Yang membawa dandang adalah pihak pria bersamaan dengan seserahan lainnya. Pada intinya, palang pintu Betawi tengah dengan Betawi timur ini memiliki arti mendasar yang sama. Hanya ada penambahan makna dalam bentuk media dandang. Dandang tembaga melambangkan kekuatan dan kemakmuran. Jika dilihat dari sudut demografis, argumen tentang dandang dipengaruhi oleh adat budaya Sunda. Hasil kuisioner menunjukan bahwa masih banyak masyarakat asli maupun pendatang belum memahami makna dari palang pintu tersebut. Bedasarkan diagram pada analisis data sebanyak 32% masyarakat tidak memahami makna dari palang pintu tersebut, dan sebanyak 68% masyarakat memahami maknanya. Tentunya, masing-masing mereka memiliki pendapat yang berbeda mengenai maknapalang pintu tersebut. Sebanyak 34 responden yang memahami makna palang pintu ini terdiri dari 19 masyarakat asli Betawi dan 15 orang diluar masyarakat Betawi. George Herbert Mead mendefinisikan interaksionisme simbolik sebagai gagasan bahwa interaksi sosial terjadi sebagai akibat dari penggunaan simbol-simbol yang bermakna. Simbol-simbol tersebut dapat menimbulkan asosiasi yang dapat menimbulkan interaksi antara orang lain (Alisa, 2021).
 
Tradisi Palang Pintu merupakan salah satu tradisi yang menjadi identitas masyarakat Betawi Jakarta. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari prosesi pernikahan adat Betawi sejak zaman nenek moyang kita. Melalui kajian ini diharapkan dapat membangkitkan kesadaran generasi mendatang untuk menjaga keaslian dan kekayaan budaya tradisional agar tidak punah atau tergerus oleh seni rupa progresif maupun media modern. Dengan demikian, seni budaya Betawi akan dikenal luas dan akan terus hidup dalam proses modernisasi yang terus berkembang. Inisiatif utama yang harus ditempuh antara lain, upaya pelestarian budaya melalui perencanaan metodis dan strategi pengelolaan, pengemasan produk budaya yang menarik dan relevan, serta sosialisasi ke seluruh lapisan masyarakat di tingkat nasional dan internasional guna melestarikan budaya dan memajukan masyarakat.
Ada beberapastrategi yang dapat dilakukan untuk memulihkan kebudayaan Palang Pintu adat Betawi ini:
  • Promosi kegiatan
  • Mengembangkan Pendidikan budaya Betawi
  • Mengadakan festival kebudayaan setiap tahun
Bedasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa makna Palang Pintu dalam pernikahan Betawi ada dua, yaitu ketika seorang laki-laki akan menikah dia harus bisa mengurus istri dan anaknya, karena laki-laki di rumah adalah kepala keluarga dan harus melindungi keluarganya dari bahaya. Oleh karena itu, mempelai laki-laki diibaratkan sebagai laki-laki yang harus mahir dalam ilmu silat. Palang Pintu merupakan adat yang berasal dari zaman dahulu dan digunakan untuk menilai ilmu mempelai pria.Orang Betawi menggunakannya untuk mengukur seberapa serius calon mempelai pria menjalani upacara pernikahan adat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan budaya Betawi tetap ada di sekitar lingkungan Jakarta, meskipun belum sepenuhnya meratadi kalangan masyarakat asli dan pendatang. Disadari atau tidak, globalisasi dan maraknya multikulturalisme di ibu kota saat ini menggerus eksistensi budaya Betawi. Oleh karena itu, untuk melestarikan nilai-nilai budaya Betawi yang diwariskan nenek moyang, hal ini perlu diantisipasi sedini mungkin dengan solusi yang tepat untuk mempertahankan budaya tradisional Betawi. Ada beberapa strategi untuk melestarikan dan memulihkan budaya Palang Pintu Betawi, seperti memasukkan unsur budaya dalam setiap kegiatan, mengadakan pameran budaya Betawi, mengekspor karya seni, melakukan promosi kegiatan, mengembangkan pendidikan budaya Betawi, dan mengadakan festival kebudayaan setiap tahun.